
Sewa Mobil di Lombok: Toyota New Rush vs All New Terios – Siapa Jawaranya untuk Liburan Anda?
August 15, 2025
10 Tempat Wisata di Lombok yang Wajib Dikunjungi Tahun 2025
August 20, 2025Peresean: Warisan Leluhur yang Membara di Tanah Sasak Lombok
Pulau Lombok tak hanya terkenal dengan keindahan alamnya yang menakjubkan, tetapi juga kaya akan budaya dan tradisi yang sarat makna. Salah satu warisan budaya yang paling mencolok dan masih lestari hingga kini adalah Peresean, sebuah tradisi pertarungan adat suku Sasak yang tidak hanya menguji kekuatan fisik, tetapi juga menampilkan nilai-nilai kehormatan, sportivitas, dan spiritualitas. Peresean bukan sekadar atraksi kekerasan, tetapi merupakan simbol jati diri masyarakat Lombok yang berani, tangguh, dan menjunjung tinggi persaudaraan.
Asal Usul Peresean: Dari Medan Latih Hingga Ritual Sakral
Peresean sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan berakar kuat dalam budaya masyarakat Sasak. Dahulu, peresean digunakan sebagai media pelatihan fisik dan mental bagi para pria untuk mempersiapkan diri menghadapi perang atau konflik. Mereka yang terpilih menjadi pepadu — sebutan bagi petarung peresean — dianggap memiliki keberanian dan kekuatan yang luar biasa.
Namun, selain sebagai latihan perang, peresean juga memiliki peran penting dalam ritual adat, terutama dalam upacara memanggil hujan. Masyarakat Sasak percaya bahwa suara dari benturan penjalin (rotan) dan teriakan semangat dari para penonton dapat membangkitkan kekuatan alam untuk menurunkan hujan di musim kemarau panjang. Maka, peresean pun menjadi bagian dari tradisi sakral yang penuh makna.
Peralatan Tradisional dalam Peresean
Pertarungan peresean menggunakan dua alat utama:
-
Penjalin: Tongkat dari rotan sepanjang sekitar 1 meter. Senjata ini digunakan untuk menyerang lawan, namun lentur dan tidak tajam, meskipun bisa menyebabkan luka jika terkena bagian tubuh tertentu.
-
Ende: Tameng atau perisai yang terbuat dari kulit kerbau atau sapi yang dikeringkan dan dikeraskan. Ende digunakan untuk menahan serangan penjalin.
Kedua alat ini melambangkan keseimbangan antara kekuatan dan perlindungan, antara menyerang dan bertahan — nilai-nilai yang mencerminkan kehidupan manusia itu sendiri.
Aturan dan Etika Peresean
Meskipun tampak keras dan brutal, peresean memiliki aturan dan etika yang ketat. Pertarungan biasanya berlangsung dalam 3 sampai 5 ronde, masing-masing berdurasi beberapa menit, tergantung keputusan pekembar (wasit). Beberapa aturan penting dalam peresean antara lain:
-
Tidak boleh memukul bagian kepala belakang, mata, atau alat vital.
-
Jika lawan sudah menyerah atau menjatuhkan senjata, pertarungan harus dihentikan.
-
Tidak diperbolehkan membawa dendam atau menyimpan emosi negatif setelah pertarungan.
Setelah pertarungan selesai, kedua pepadu wajib berjabat tangan dan berpelukan sebagai simbol bahwa tidak ada permusuhan pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa peresean bukan ajang kekerasan, tetapi media untuk menguji keberanian, melatih kedewasaan, dan mempererat persaudaraan.
Ritual dan Prosesi Peresean
Sebelum pertarungan dimulai, biasanya ada prosesi khusus yang melibatkan musik tradisional gendang beleq, serta iring-iringan para pepadu dan pekembar. Suasana menjadi sangat meriah dan sakral, menciptakan energi yang membakar semangat para penonton.
Para pepadu seringkali berasal dari desa-desa yang berbeda, sehingga peresean juga menjadi ajang silaturahmi antar komunitas. Masyarakat berkumpul, bersorak, dan menikmati pertunjukan yang mengandung filosofi mendalam.
Makna Filosofis di Balik Peresean
Peresean sarat dengan nilai-nilai luhur yang tak lekang oleh waktu:
1. Keberanian dan Kejantanan
Menjadi pepadu bukan perkara mudah. Sejak kecil, seorang lelaki Sasak harus melalui pelatihan fisik dan mental untuk siap bertarung. Ini melambangkan bahwa keberanian adalah kualitas utama seorang pemimpin dan pelindung keluarga.
2. Pengendalian Diri
Dalam pertarungan, pepadu harus bisa mengendalikan emosi dan tetap menghormati lawan. Ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan pada siapa yang paling keras memukul, tapi siapa yang bisa menahan diri saat berada di puncak emosi.
3. Sportivitas dan Persaudaraan
Setelah bertarung, tidak ada dendam. Justru, para pepadu saling menghormati, bahkan sering menjalin persahabatan baru. Peresean mengajarkan bahwa konflik bisa diselesaikan secara terhormat.
4. Keselarasan dengan Alam
Dalam konteks ritual hujan, peresean menjadi bentuk komunikasi antara manusia dengan alam. Tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Sasak hidup selaras dan menghormati kekuatan alam.
Peresean Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya
Saat ini, peresean telah menjadi salah satu ikon budaya Lombok dan sering dipertunjukkan di berbagai acara, seperti Festival Bau Nyale, Festival Pesona Lombok Sumbawa, dan di berbagai desa wisata seperti Sade, Ende, dan Sukarara.
Wisatawan lokal maupun mancanegara sangat antusias menyaksikan pertunjukan peresean, karena selain menghibur, mereka juga bisa belajar tentang nilai-nilai budaya yang kental. Banyak pengunjung yang terkesan dengan semangat sportivitas dan kedewasaan para pepadu yang mampu tetap tersenyum walau tubuhnya penuh luka.
Upaya Pelestarian dan Tantangan Zaman
Meski populer, peresean tetap menghadapi tantangan zaman modern. Komersialisasi berlebihan kadang menggeser nilai-nilai sakral menjadi sekadar tontonan. Ada pula kekhawatiran bahwa generasi muda akan kehilangan minat terhadap tradisi ini.
Namun, berbagai pihak terus berupaya melestarikan peresean. Pemerintah daerah, komunitas budaya, sekolah, hingga sanggar seni kini mulai mengajarkan peresean sebagai bagian dari kurikulum lokal dan kegiatan ekstrakurikuler. Tujuannya bukan hanya melatih fisik, tetapi juga membentuk karakter, seperti keberanian, disiplin, dan rasa hormat.
Kisah Inspiratif dari Arena Peresean
Salah satu kisah yang menginspirasi datang dari seorang pepadu muda bernama Lalu Arifin, pemuda asal Praya yang mulai ikut peresean sejak usia 13 tahun. Meski sempat mendapat luka di beberapa pertarungan, ia tetap semangat karena merasa bahwa peresean membentuk dirinya menjadi lebih kuat, sabar, dan berjiwa besar.
Kini, di usia 25 tahun, Lalu Arifin menjadi pelatih peresean di desanya dan aktif mengajak anak-anak muda untuk mencintai tradisi. “Peresean bukan hanya bertarung, tapi belajar menghormati hidup dan sesama,” ujarnya.
Kesimpulan: Peresean adalah Identitas yang Harus Dijaga
Peresean adalah lebih dari sekadar pertarungan rotan. Ia adalah manifestasi dari kekuatan tradisi, simbol jati diri, dan warisan luhur yang patut dijaga. Di dalamnya terdapat keberanian, kehormatan, kesakralan, dan rasa persaudaraan yang mendalam. Dalam setiap sabetan penjalin dan keteguhan pepadu, kita melihat semangat leluhur yang terus hidup.
Sebagai generasi masa kini, kita memiliki tanggung jawab untuk melestarikan peresean, bukan hanya sebagai atraksi budaya, tetapi sebagai cermin karakter dan kebesaran budaya bangsa. Dengan menjaga tradisi, kita menjaga akar kita sendiri — agar tak tercerabut oleh arus zaman, dan tetap teguh di bumi sendiri.




